
Bestprofit (25/2) – Harga emas melemah pada hari Selasa (24/2) setelah mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut. Reli sebelumnya ditopang oleh ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Meski sempat mengalami tekanan jual cukup tajam secara intraday, penurunan emas tidak berkembang menjadi aksi jual berkelanjutan karena dolar AS hanya menguat tipis dan kemudian kembali melemah.
Pada sesi terbaru, emas sempat terkoreksi hingga sekitar 2,5% sebelum memangkas sebagian pelemahannya. Penurunan tersebut terjadi setelah dalam empat sesi sebelumnya harga emas melonjak lebih dari 7%. Kenaikan itu dipicu oleh memburuknya sentimen risiko global, terutama setelah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang mengguncang rezim tarif Presiden Donald Trump, serta meningkatnya ketegangan dalam konfrontasi AS–Iran.
Fluktuasi harga yang cukup besar dinilai sejumlah pelaku pasar masih tergolong “normal” di tengah volatilitas global yang tinggi. Namun, arah pergerakan emas dalam jangka menengah tetap menjadi perhatian utama, mengingat sejumlah faktor fundamental yang menopang reli sebelumnya belum sepenuhnya mereda.
Ketidakpastian Tarif AS Jadi Sumber Kebingungan Pasar
Salah satu pemicu utama gejolak pasar adalah kebijakan tarif AS yang berubah-ubah dan belum memiliki kepastian implementasi. Setelah putusan pengadilan yang mengejutkan pasar, Trump menyatakan akan menaikkan bea impor global menjadi 15%. Pada saat yang sama, kebijakan tarif impor 10% yang lebih dulu diumumkan telah mulai berlaku pada Selasa, sementara jadwal penerapan tarif yang lebih tinggi belum memiliki kejelasan.
Kondisi ini menimbulkan kebingungan di kalangan pelaku usaha dan negara mitra dagang. Mereka harus menghitung ulang dampak kebijakan baru tersebut terhadap rantai pasok global, biaya produksi, hingga potensi pembalasan tarif. Risiko benturan dengan perjanjian dagang yang telah ada juga menjadi perhatian tersendiri.
Bagi pasar keuangan, situasi ini menciptakan ketidakpastian yang biasanya mendukung permintaan aset safe haven seperti emas. Namun, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penembusan harga secara agresif, terutama karena faktor lain seperti real yield dan pergerakan dolar masih relatif stabil.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Real Yield dan Dolar AS Menahan Emas
Meski ketidakpastian tarif dan geopolitik cenderung mendukung emas, faktor makroekonomi lain justru membatasi ruang kenaikan. Real yield—imbal hasil obligasi setelah dikurangi inflasi—masih tergolong kokoh. Kondisi ini membuat obligasi pemerintah tetap menarik bagi investor institusi, sehingga mengurangi urgensi untuk meningkatkan eksposur ke emas.
Di sisi lain, dolar AS belum menunjukkan pelemahan signifikan. Walaupun sempat bergerak naik tipis, penguatan dolar tidak cukup kuat untuk menekan emas secara ekstrem. Namun, selama dolar belum melemah tajam, ruang bagi emas untuk membentuk tren naik baru dinilai terbatas.
Beberapa analis melihat emas lebih berpeluang bergerak konsolidatif dalam jangka pendek. Tanpa katalis baru—baik dari sisi geopolitik, kebijakan moneter, maupun data ekonomi utama—pergerakan harga cenderung “choppy” dengan volatilitas tinggi.
Konsolidasi di Atas $5.000 dan Bayang-Bayang Rekor Januari
Emas dinilai mulai menemukan pijakan kembali di atas level psikologis $5.000 per ons setelah melalui fase pergerakan ekstrem. Pada pergantian bulan, lonjakan spekulatif sempat mendorong reli multi-tahun menuju rekor di atas $5.595 pada akhir Januari. Namun, setelah mencapai puncak tersebut, harga berbalik tajam akibat aksi ambil untung dan perubahan sentimen risiko.
Sejak koreksi tersebut, emas telah memulihkan lebih dari separuh penurunannya. Kendati demikian, volatilitas masih tinggi dan pergerakan harian cenderung tidak stabil. Level $5.000 kini menjadi area penting yang dipantau pelaku pasar sebagai indikator kekuatan tren jangka menengah.
Bila harga mampu bertahan di atas area ini, peluang pemulihan lanjutan tetap terbuka. Sebaliknya, penembusan ke bawah secara konsisten bisa memicu tekanan jual tambahan, terutama dari investor jangka pendek yang sensitif terhadap momentum.
Pilar Fundamental: Geopolitik dan Kekhawatiran terhadap The Fed
Sejumlah bank besar mempertahankan pandangan positif terhadap emas dalam beberapa bulan ke depan. Mereka menilai pilar fundamental reli belum berubah secara signifikan. Risiko geopolitik—khususnya di Timur Tengah—masih tinggi. Selain itu, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS, yakni Federal Reserve, juga menjadi faktor yang menjaga permintaan lindung nilai tetap hidup.
Sebagian investor global mulai mengalihkan sebagian portofolio dari obligasi pemerintah dan mata uang utama menuju aset lindung nilai seperti emas. Pergeseran ini tidak selalu terjadi secara masif, namun cukup untuk memberikan dukungan harga dalam jangka menengah.
Bank investasi global UBS, misalnya, menilai bahwa peristiwa geopolitik berpotensi memicu lonjakan volatilitas pasar yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan hedging. Dalam proyeksi terbarunya, UBS memperkirakan emas berpotensi menuju $6.200 per ons dalam beberapa bulan mendatang, asalkan ketidakpastian global tetap tinggi dan arus investasi defensif berlanjut.
Dinamika AS–Iran dan Relevansi Safe Haven
Secara geopolitik, perhatian pasar kini tertuju pada kelanjutan pembicaraan nuklir antara AS dan Iran. Negosiasi tersebut berlangsung di tengah akumulasi kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah. Trump menegaskan preferensinya pada solusi diplomatik, tetapi juga memperingatkan adanya konsekuensi serius bila kesepakatan tidak tercapai.
Kombinasi antara pendekatan diplomasi dan ancaman sanksi atau tindakan militer menciptakan lingkungan yang tidak pasti. Dalam kondisi seperti ini, emas tetap relevan sebagai aset safe haven, meski harga sedang mengalami koreksi teknikal.
Pada penutupan sesi New York, emas tercatat turun sekitar 1,2% ke $5.164,61 per ons. Sementara itu, perak melemah 1,0% ke $87,30, dan dolar AS bergerak naik tipis. Pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang berhati-hati, bukan panik.
Prospek Jangka Pendek: Konsolidasi atau Lompatan Baru?
Melihat keseluruhan dinamika, harga emas saat ini berada di persimpangan antara konsolidasi dan potensi lompatan baru. Di satu sisi, real yield yang masih kuat dan dolar yang relatif stabil membatasi kenaikan agresif. Di sisi lain, ketidakpastian tarif, risiko geopolitik, serta kekhawatiran kebijakan moneter tetap menjadi fondasi yang solid bagi permintaan emas.
Selama faktor-faktor risiko tersebut belum mereda secara signifikan, emas kemungkinan akan tetap menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi portofolio global. Namun, untuk menembus rekor baru secara meyakinkan, pasar membutuhkan katalis tambahan—baik berupa eskalasi geopolitik, perubahan arah kebijakan moneter, maupun pelemahan dolar yang lebih substansial.
Dengan volatilitas yang masih tinggi dan sentimen global yang rapuh, emas tampaknya akan terus bergerak dinamis dalam waktu dekat. Bagi investor, disiplin manajemen risiko dan pemantauan perkembangan kebijakan global menjadi kunci dalam menyikapi pergerakan logam mulia ini.
Jangan
lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam
informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan
baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures





