Wednesday, February 18, 2026

Bestprofit | Emas Melemah, Sorotan ke FOMC

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Pulih-Menjelang-Data-Inflasi-AS.jpg

Bestprofit (19/2) – Harga emas bergerak stabil setelah sempat melonjak sekitar 2% pada hari Rabu, di tengah perdagangan Asia yang cenderung sepi karena sebagian pasar tutup libur Tahun Baru Imlek. Minimnya partisipasi dari sejumlah pusat keuangan utama di kawasan membuat volume transaksi relatif tipis, sehingga pergerakan harga cenderung lebih sensitif terhadap sentimen global.

Di awal perdagangan, harga emas batangan berada di kisaran $4.975 per ons. Permintaan beli kembali muncul pada sesi sebelumnya setelah emas sempat mencatat penurunan selama dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut memicu aksi “buy the dip” dari sebagian pelaku pasar yang memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang masuk.

Meski demikian, stabilitas yang terlihat saat ini belum sepenuhnya mencerminkan ketenangan pasar. Dalam beberapa pekan terakhir, emas bergerak dalam rentang yang cukup lebar, dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan geopolitik.

Bayang-Bayang Rekor Tertinggi

Pergerakan emas masih terasa berombak sejak terjadi gejolak besar di awal bulan. Saat itu, harga sempat terkoreksi tajam dari rekor tertingginya yang pernah menembus di atas $5.595 per ons. Lonjakan ke level tersebut sebelumnya didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan meningkatnya permintaan aset aman.

Koreksi tajam dari level puncak membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap berita dan data ekonomi. Investor kini cenderung bereaksi lebih cepat terhadap setiap sinyal baru, baik yang berasal dari bank sentral, laporan ekonomi, maupun perkembangan geopolitik.

Fluktuasi yang terjadi mencerminkan fase konsolidasi setelah reli panjang. Dalam fase ini, harga biasanya mencari keseimbangan baru sambil menunggu katalis berikutnya yang mampu menentukan arah tren jangka menengah.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Fokus pada Langkah Berikutnya The Fed

Sorotan utama pelaku pasar tertuju pada risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dari Federal Reserve. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa sejumlah pejabat bank sentral terlihat lebih berhati-hati untuk segera memangkas suku bunga.

Sikap hati-hati ini mencerminkan kekhawatiran bahwa pelonggaran kebijakan terlalu cepat dapat memicu kembali tekanan inflasi. Bagi pasar emas, sinyal tersebut menjadi faktor penting. Emas dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding asset), sehingga ketika suku bunga tinggi atau bertahan lebih lama, daya tarik emas relatif berkurang dibandingkan instrumen berbunga seperti obligasi.

Sebaliknya, jika ada indikasi kuat bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga, emas biasanya mendapat dorongan karena biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi lebih rendah. Oleh karena itu, setiap pernyataan atau dokumen resmi dari The Fed menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Dimensi Politik: Donald Trump dan Suku Bunga

Situasi ini juga berpotensi memunculkan dinamika politik baru. Donald Trump kerap menyuarakan dukungan terhadap suku bunga yang lebih rendah guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan pasar saham.

Pernyataan semacam ini dapat memunculkan perdebatan mengenai independensi bank sentral. Jika tekanan politik terhadap The Fed meningkat, pasar bisa merespons dengan volatilitas tambahan. Dalam konteks tersebut, emas sering kali menjadi pilihan lindung nilai (hedging) terhadap ketidakpastian kebijakan.

Ketika investor melihat potensi gangguan terhadap independensi bank sentral atau ketidakpastian arah kebijakan moneter, permintaan terhadap aset aman seperti emas cenderung meningkat. Hal ini karena emas dianggap relatif bebas dari risiko kebijakan domestik suatu negara tertentu.

Dolar AS Menguat, Emas Tertahan

Di sisi lain, penguatan dolar AS menjadi tantangan tersendiri bagi harga emas. Setelah data ekonomi menunjukkan kondisi yang masih tangguh, dolar AS mengalami penguatan signifikan. Produksi industri AS tercatat naik paling besar dalam hampir setahun, sementara pesanan “barang modal inti” juga meningkat lebih kuat dari perkiraan.

Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga dapat menekan permintaan global. Hubungan terbalik antara dolar dan emas sering kali menjadi faktor penentu dalam jangka pendek.

Selain itu, data ekonomi yang solid mengurangi urgensi bagi The Fed untuk segera memangkas suku bunga. Kombinasi antara ekonomi yang kuat dan dolar yang menguat menciptakan tekanan ganda bagi emas, meskipun tidak serta-merta membalikkan tren jangka panjang.

Pergeseran Minat Investor Global

Ke depan, sejumlah bank besar masih menilai bahwa tren emas berpotensi kembali menguat. Ada beberapa alasan yang mendasari pandangan ini. Pertama, isu independensi The Fed dapat kembali mencuat dan menciptakan ketidakpastian. Kedua, sebagian investor global mulai melakukan diversifikasi dari mata uang dan obligasi ke aset riil seperti emas.

Perubahan preferensi ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses bertahap. Ketika imbal hasil obligasi dianggap kurang menarik atau risiko pasar meningkat, emas menjadi alternatif untuk menjaga nilai kekayaan.

Selain investor ritel dan institusi, bank sentral di berbagai negara juga berperan dalam permintaan emas global. Dalam beberapa tahun terakhir, pembelian emas oleh bank sentral meningkat sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Ketegangan Geopolitik dan Permintaan Aset Aman

Pasar juga terus mengikuti perkembangan di Timur Tengah, termasuk perbincangan antara AS dan Iran yang belum menghasilkan terobosan signifikan. Ketegangan di kawasan tersebut kerap menjadi katalis kenaikan harga emas, terutama jika berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi atau memperluas konflik regional.

Setiap eskalasi geopolitik biasanya memicu lonjakan permintaan terhadap aset aman. Emas, bersama dengan dolar AS dan obligasi pemerintah AS, termasuk dalam kategori ini. Namun dalam beberapa periode, emas dapat menjadi pilihan utama ketika ketidakpastian meningkat secara tajam.

Selain Timur Tengah, dinamika global lain seperti konflik regional, sanksi ekonomi, atau ketegangan dagang juga berpotensi memengaruhi arah harga emas dalam beberapa bulan mendatang.

Menanti Katalis Berikutnya

Dengan berbagai faktor yang saling tarik-menarik—mulai dari kebijakan moneter, data ekonomi, politik domestik AS, hingga geopolitik global—emas saat ini berada dalam fase penantian. Harga yang stabil di sekitar $4.975 per ons mencerminkan keseimbangan sementara antara pembeli dan penjual.

Dalam jangka pendek, arah emas kemungkinan besar akan ditentukan oleh kombinasi data inflasi, pernyataan pejabat The Fed, serta perkembangan geopolitik. Jika data ekonomi AS mulai menunjukkan perlambatan yang lebih jelas, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat kembali menguat dan mendukung kenaikan emas.

Sebaliknya, jika ekonomi tetap solid dan dolar terus menguat, emas bisa menghadapi tekanan lanjutan. Namun dengan latar belakang ketidakpastian global yang masih tinggi, emas tetap memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai.

Bagi investor, situasi ini menuntut strategi yang lebih selektif dan disiplin manajemen risiko. Fluktuasi harga yang tajam dalam beberapa pekan terakhir menjadi pengingat bahwa pasar emas, meski dikenal sebagai aset aman, tetap rentan terhadap perubahan sentimen global.

Pada akhirnya, emas tetap berada di persimpangan antara kebijakan moneter dan dinamika geopolitik. Selama kedua faktor tersebut belum menunjukkan arah yang jelas dan konsisten, pergerakan emas kemungkinan akan tetap berombak—namun dengan potensi kenaikan yang tetap terbuka dalam jangka menengah hingga panjang.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Tuesday, February 17, 2026

Bestprofit | Bank Besar Bullish, Emas Masih Bimbang

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_NFP-Kuat-Emas-Melemah-CPI-Jadi-Penentu-1.jpg

Bestprofit (18/2) – Harga emas bergerak relatif stabil setelah mencatat penurunan selama dua hari beruntun, di tengah aktivitas perdagangan yang cenderung tipis akibat libur Tahun Baru Imlek di sejumlah negara Asia. Minimnya partisipasi pelaku pasar membuat likuiditas menurun, sehingga pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek meskipun tanpa katalis fundamental yang besar.

Pada awal perdagangan, emas batangan berada di kisaran US$4.880 per ons, setelah sebelumnya terkoreksi lebih dari 3% dalam dua sesi berturut-turut. Penurunan ini terjadi seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan daya tarik logam mulia tersebut. Dalam kondisi pasar yang sepi, pergerakan harga dapat menjadi lebih fluktuatif karena volume transaksi yang rendah memperbesar dampak setiap aksi beli atau jual.

Dampak Penguatan Dolar AS

Kinerja emas dalam beberapa hari terakhir sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks utama dolar sempat menguat hingga 0,4% sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan bagi emas karena logam mulia dihargakan dalam mata uang tersebut. Ketika dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung menurun.

Hubungan terbalik antara emas dan dolar merupakan pola klasik di pasar keuangan global. Saat dolar menguat karena ekspektasi suku bunga tinggi atau ketahanan ekonomi AS, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar. Sebaliknya, ketika dolar melemah, emas sering kali mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dari Rekor Tertinggi ke Koreksi Tajam

Sebelumnya, reli kuat membawa emas mencetak rekor baru di atas US$5.595 per ons pada akhir Januari. Namun, lonjakan tersebut dinilai terlalu cepat dan memicu kondisi pasar yang “overbought” atau jenuh beli. Koreksi tajam pun tak terhindarkan, dengan harga sempat merosot mendekati US$4.400 hanya dalam dua sesi perdagangan.

Pergerakan ekstrem ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap perubahan sentimen. Setelah kenaikan signifikan, banyak pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan, memicu aksi jual besar-besaran. Meski emas telah pulih sebagian dari titik terendahnya, analis menilai logam mulia ini belum menemukan level support yang benar-benar kokoh untuk menahan tekanan lanjutan.

Prospek Jangka Menengah Masih Positif

Di tengah volatilitas jangka pendek, sejumlah bank global tetap optimistis terhadap prospek emas. Institusi seperti BNP Paribas SA, Deutsche Bank AG, dan Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan tren kenaikan masih berpotensi berlanjut dalam jangka menengah.

Faktor-faktor pendukung yang disebut masih solid antara lain meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, pergeseran minat investor dari obligasi dan mata uang tertentu, serta kekhawatiran terkait independensi bank sentral Amerika Serikat. Dalam situasi ketidakpastian global, emas kerap menjadi aset pilihan untuk melindungi nilai kekayaan.

Sorotan pada Kebijakan Moneter The Fed

Dalam jangka pendek, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan moneter AS. Setiap pernyataan pejabat bank sentral menjadi petunjuk penting bagi pelaku pasar untuk memperkirakan langkah selanjutnya terkait suku bunga. Ekspektasi pemangkasan suku bunga umumnya menjadi sentimen positif bagi emas, karena logam ini tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Ketika suku bunga turun, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah dibandingkan instrumen berbunga seperti obligasi. Oleh karena itu, prospek pelonggaran moneter sering kali mendorong kenaikan harga emas.

Emas sempat menguat singkat pada Jumat lalu setelah data inflasi menunjukkan tren moderat. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral memiliki ruang untuk menurunkan biaya pinjaman dalam waktu dekat.

Pernyataan Pejabat Federal Reserve

Komentar terbaru dari pejabat Federal Reserve memberikan gambaran beragam. Gubernur The Fed, Michael Barr, menyatakan bahwa suku bunga sebaiknya tetap stabil “untuk beberapa waktu” hingga terdapat bukti lebih kuat bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target 2%. Sikap ini mencerminkan kehati-hatian otoritas moneter dalam memastikan stabilitas harga.

Di sisi lain, Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menilai masih ada peluang penurunan suku bunga tahun ini apabila inflasi terus menunjukkan tren melandai. Pernyataan ini membuka ruang optimisme bagi pasar emas, meskipun belum memberikan kepastian waktu yang jelas.

Perbedaan nada dalam pernyataan pejabat bank sentral tersebut menunjukkan bahwa kebijakan moneter masih sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk. Investor pun akan mencermati rilis data inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi sebagai penentu arah berikutnya.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan bervariasi. Pada pukul 08.51 waktu Singapura, harga emas spot tercatat nyaris tidak berubah di US$4.880,18 per ons. Sementara itu, perak turun sekitar 1% ke US$72,83 per ons. Platinum menguat 0,9%, sedangkan palladium naik 0,5%.

Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar komoditas yang dipengaruhi faktor serupa, seperti nilai tukar dolar dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global. Namun, masing-masing logam juga memiliki faktor fundamental spesifik, seperti permintaan industri dan pasokan tambang, yang dapat memengaruhi harga secara berbeda.

Likuiditas Rendah dan Potensi Volatilitas

Perdagangan yang tipis selama libur panjang di Asia meningkatkan potensi volatilitas. Dalam kondisi likuiditas rendah, transaksi dalam jumlah relatif kecil dapat memicu pergerakan harga yang signifikan. Hal ini membuat pasar lebih rentan terhadap rumor, spekulasi, atau pernyataan pejabat yang biasanya tidak terlalu berdampak saat volume perdagangan normal.

Investor jangka pendek cenderung berhati-hati dalam situasi seperti ini, sementara pelaku pasar jangka panjang mungkin melihat fluktuasi sebagai peluang akumulasi, terutama jika fundamental jangka menengah tetap mendukung.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Ke depan, arah harga emas akan sangat ditentukan oleh kombinasi faktor global. Ketegangan geopolitik, arah kebijakan moneter AS, pergerakan dolar, serta dinamika inflasi akan menjadi variabel kunci. Jika inflasi terus menurun dan membuka jalan bagi pemangkasan suku bunga, emas berpotensi kembali menguji level resistensi penting.

Namun, jika data ekonomi AS tetap kuat dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, tekanan terhadap emas bisa berlanjut. Dalam konteks ini, volatilitas kemungkinan tetap tinggi hingga pasar mendapatkan kepastian arah kebijakan.

Secara keseluruhan, meskipun harga emas saat ini bergerak relatif stabil setelah koreksi tajam, sentimen pasar masih rapuh. Optimisme jangka menengah tetap ada, didukung oleh proyeksi sejumlah bank besar dan ketidakpastian global. Akan tetapi, dalam jangka pendek, pasar kemungkinan akan terus bergerak dalam kisaran terbatas sambil menunggu katalis baru yang lebih kuat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Thursday, February 12, 2026

Bestprofit | Emas Stabil di Tengah Tekanan Jual

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Tertekan-Saat-Data-Tenaga-Kerja-Lemah-4.jpg

Bestprofit (13/2) – Harga emas kembali menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah mengalami penurunan tajam yang dipicu oleh aksi jual luas di berbagai pasar keuangan global. Pada perdagangan awal, harga emas batangan berada di kisaran $4.920 per ons, menyusul anjloknya harga sebesar 3,2% pada sesi sebelumnya — penurunan harian terbesar dalam sepekan terakhir. Gejolak ini mencerminkan dinamika pasar yang semakin sensitif terhadap sentimen makroekonomi, teknologi, dan kebijakan moneter.

Penurunan mendadak tersebut terjadi bersamaan dengan kegelisahan di Wall Street, di mana harga aset dari berbagai kelas — mulai dari saham hingga komoditas — mengalami tekanan. Kekhawatiran tentang dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pendapatan perusahaan menjadi salah satu faktor yang memicu aksi jual besar-besaran. Ketidakpastian mengenai bagaimana AI akan memengaruhi struktur biaya, produktivitas, dan persaingan usaha membuat investor bersikap lebih berhati-hati.

Tekanan dari Wall Street dan Perdagangan Algoritmik

Anjloknya harga emas tidak berdiri sendiri. Tekanan yang terjadi di pasar saham Amerika Serikat ikut menyeret komoditas logam mulia ini. Ketika investor melepas aset berisiko, dampaknya sering kali merembet ke instrumen lindung nilai seperti emas, terutama jika terjadi kebutuhan likuiditas jangka pendek.

Penurunan dramatis pada hari Kamis yang tidak memiliki katalis jelas memunculkan spekulasi bahwa perdagangan algoritmik turut memperparah situasi. Michael Ball, seorang ahli strategi makro di Bloomberg, menyebut bahwa aksi jual kemungkinan diperkuat oleh penasihat perdagangan komoditas (commodity trading advisors/CTA) yang menggunakan model komputer untuk membaca dan merespons pergerakan harga secara otomatis.

Perdagangan berbasis algoritma dapat mempercepat pergerakan pasar, baik naik maupun turun. Ketika sinyal teknikal menunjukkan tren negatif, sistem otomatis ini cenderung mengeksekusi penjualan dalam volume besar, sehingga menciptakan efek bola salju yang memperdalam penurunan harga.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Aksi Ambil Untung dan Volatilitas Logam Mulia

Selain faktor algoritmik, aksi ambil untung (profit taking) juga menjadi penyebab potensial pelemahan harga emas dan perak. Kedua logam tersebut sebelumnya telah mencatat pemulihan signifikan setelah penurunan historis di awal bulan. Ketika harga kembali mendekati level tinggi, sebagian investor memilih mengunci keuntungan mereka.

Perak bahkan mengalami penurunan hampir 11% pada hari Kamis, menunjukkan bahwa volatilitas tidak hanya terjadi pada emas. Perdagangan logam mulia sejak awal bulan memang sangat bergejolak, dengan pergerakan harga yang tajam dalam waktu singkat. Kondisi ini mencerminkan ketidakpastian global yang masih tinggi, baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik.

Meski demikian, harga emas spot tercatat naik tipis 0,4% menjadi $4.940,79 per ons pada pukul 08.28 waktu Singapura. Perak naik 0,6% menjadi $75,88, sementara platinum dan paladium juga mencatatkan kenaikan. Indeks Spot Dolar Bloomberg relatif tidak berubah, menandakan stabilitas sementara di pasar mata uang.

Menanti Data Inflasi AS dan Sikap The Fed

Fokus investor kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan Jumat mendatang. Angka inflasi tersebut akan menjadi indikator penting dalam membentuk ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan berikutnya dari Federal Reserve.

Sebelumnya, data ketenagakerjaan Januari yang kuat telah mengurangi urgensi bagi bank sentral AS untuk segera memangkas suku bunga pada pertengahan tahun. Pasar tenaga kerja yang solid memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama guna memastikan inflasi benar-benar terkendali.

Bagi emas, dinamika suku bunga sangat krusial. Logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil atau bunga, sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi. Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset tanpa imbal hasil.

Emas Turun di Bawah $5.000: Koreksi atau Awal Tren Baru?

Kembalinya harga emas di bawah level psikologis $5.000 per ons memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar: apakah ini sekadar koreksi sementara atau awal dari tren penurunan yang lebih dalam?

Secara historis, emas sering mengalami koreksi tajam dalam tren naik jangka panjang. Pergerakan harga yang cepat dan signifikan sering kali mencerminkan dinamika pasar jangka pendek, bukan perubahan fundamental jangka panjang. Dalam konteks saat ini, tidak ada perubahan besar pada faktor-faktor struktural yang sebelumnya mendorong kenaikan harga emas.

Ketegangan geopolitik global masih berlangsung di berbagai kawasan. Selain itu, perdebatan mengenai independensi bank sentral dan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal sejumlah negara juga tetap menjadi latar belakang yang mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Prospek Bullish dari Bank-Bank Global

Terlepas dari volatilitas terbaru, sejumlah bank investasi global tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap emas. BNP Paribas SA memperkirakan harga emas dapat mencapai $6.000 per ons pada akhir tahun. Proyeksi tersebut didasarkan pada kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan pergeseran preferensi investor.

Pandangan serupa juga datang dari Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc. yang menilai bahwa tren kenaikan emas masih memiliki fondasi kuat. Mereka menyoroti meningkatnya minat terhadap aset alternatif sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global dan potensi pelemahan mata uang utama.

Beberapa analis juga mencatat adanya perubahan struktural dalam alokasi portofolio global. Investor institusional mulai mengurangi eksposur terhadap obligasi pemerintah dan mata uang tradisional, serta meningkatkan porsi pada emas dan aset riil lainnya sebagai langkah diversifikasi risiko.

Pergeseran Aset dan Ketidakpastian Global

Salah satu pendorong utama kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir adalah pergeseran kepercayaan terhadap aset tradisional. Di tengah lonjakan utang pemerintah dan kebijakan moneter ultra-longgar pada periode sebelumnya, sebagian investor mencari perlindungan nilai jangka panjang.

Ketika inflasi meningkat dan volatilitas pasar saham membesar, emas kembali menegaskan perannya sebagai penyimpan nilai (store of value). Meskipun harga dapat berfluktuasi tajam dalam jangka pendek, banyak investor melihat emas sebagai instrumen perlindungan terhadap risiko sistemik.

Selain itu, meningkatnya penggunaan teknologi dan perdagangan algoritmik menambah kompleksitas dinamika pasar. Pergerakan harga kini dapat dipengaruhi oleh sinyal teknikal dan model statistik dalam hitungan detik, memperbesar amplitudo fluktuasi.

Kesimpulan: Stabilitas Sementara di Tengah Ketidakpastian

Stabilisasi harga emas setelah penurunan tajam memberikan sedikit kelegaan bagi investor. Namun, volatilitas yang tinggi menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian. Data inflasi AS dan sikap lanjutan dari The Fed akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah harga emas dalam jangka pendek.

Dalam jangka menengah hingga panjang, prospek emas tetap didukung oleh ketegangan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, dan pergeseran preferensi investasi global. Meskipun koreksi tajam dapat terjadi sewaktu-waktu, banyak analis percaya bahwa tren kenaikan emas belum berakhir.

Bagi investor, kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih disiplin dan berbasis strategi. Diversifikasi portofolio, pemantauan data ekonomi, serta pemahaman terhadap dinamika perdagangan algoritmik menjadi kunci dalam menghadapi pasar yang semakin kompleks. Harga emas mungkin berfluktuasi, tetapi perannya sebagai aset lindung nilai tetap relevan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Tuesday, February 10, 2026

Bestprofit | Emas Cari Arah, Data AS Jadi Penentu

 

 

Bestprofit (11/2) – Harga emas dunia (XAU/USD) kembali melemah pada perdagangan sesi awal Asia, Rabu, dengan pergerakan mendekati level $5.045. Pelemahan ini terjadi setelah logam mulia tersebut mengalami aksi jual besar-besaran dalam beberapa sesi sebelumnya, memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar: apakah harga emas sudah menemukan titik terendahnya, atau justru masih berpotensi turun lebih jauh?

Di tengah kondisi tersebut, perhatian pasar global tertuju pada sejumlah faktor penting, mulai dari rilis data ekonomi Amerika Serikat yang tertunda, meningkatnya selera risiko investor, hingga ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.

Tekanan Jangka Pendek dari Penguatan Dolar AS dan Risk Appetite

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas dalam jangka pendek adalah meningkatnya selera risiko (risk appetite) di pasar keuangan global. Ketika investor cenderung lebih berani mengambil risiko, aset safe haven seperti emas biasanya kehilangan daya tariknya.

Selain itu, permintaan terhadap Dolar AS (USD) juga menunjukkan tanda-tanda penguatan kembali. Penguatan dolar kerap menjadi sentimen negatif bagi emas, mengingat logam mulia ini diperdagangkan dalam denominasi USD. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung menurun.

Kombinasi antara meningkatnya risk appetite dan rebound dolar AS inilah yang membuat pergerakan harga emas masih berada di bawah tekanan, meskipun sebelumnya sempat mencatat reli yang cukup signifikan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ketegangan AS–Iran Membatasi Penurunan Harga Emas

Meski menghadapi tekanan dari faktor makroekonomi, potensi penurunan harga emas dinilai masih terbatas. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang secara historis menjadi faktor pendukung bagi aset lindung nilai seperti emas.

Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan militer apabila Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington. Isu-isu yang dipermasalahkan mencakup pengayaan nuklir, program rudal balistik, hingga kebijakan regional Iran.

Pernyataan tersebut muncul di tengah aktivitas diplomatik Iran, di mana kepala keamanan Iran Ali Larijani bertemu dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq Al Said. Pertemuan ini bertujuan membahas hasil pembicaraan antara pejabat AS dan Iran yang berlangsung pada pekan sebelumnya, menandakan bahwa tensi politik masih jauh dari kata reda.

Emas Masih Relevan sebagai Aset Lindung Nilai

Volatilitas pasar yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir sempat memunculkan keraguan mengenai efektivitas emas sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan fluktuasi pasar keuangan. Namun, tidak semua pelaku pasar sepakat dengan pandangan tersebut.

Mark Haefele, Kepala Investasi Manajemen Kekayaan Global di UBS Group AG, menilai bahwa kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan. Menurutnya, peran emas sebagai aset safe haven masih sangat relevan di tengah ketidakpastian global.

“Gelombang volatilitas baru-baru ini telah mempertanyakan nilai emas sebagai lindung nilai terhadap fluktuasi geopolitik dan pasar. Kami percaya kekhawatiran tersebut berlebihan, dan reli emas akan berlanjut,” ujar Haefele.

Pernyataan ini mencerminkan pandangan bahwa koreksi harga emas saat ini lebih bersifat teknikal dan sementara, bukan perubahan tren jangka panjang.

Pasar Bersikap Wait and See Menjelang Data Penting AS

Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu dan melihat (wait and see) menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data-data ini dinilai krusial karena dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Laporan pekerjaan AS untuk bulan Januari, yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintah selama empat hari, dijadwalkan rilis pada Rabu sore waktu setempat. Data ini akan menjadi fokus utama pasar dalam jangka pendek.

Proyeksi Nonfarm Payrolls dan Tingkat Pengangguran

Laporan ketenagakerjaan tersebut diperkirakan menunjukkan bahwa Nonfarm Payrolls (NFP) meningkat sekitar 70.000 pada Januari. Angka ini mencerminkan perlambatan penciptaan lapangan kerja dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Sementara itu, tingkat pengangguran AS diproyeksikan tetap stabil di kisaran 4,4%. Jika data aktual menunjukkan pelemahan yang lebih besar dari perkiraan, hal ini dapat meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan mengambil sikap yang lebih dovish.

Sebaliknya, data yang lebih kuat dari ekspektasi berpotensi memperkuat dolar AS dan kembali menekan harga emas.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Selanjutnya

Selain laporan ketenagakerjaan, perhatian pasar juga tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan pada hari Jumat. Data inflasi ini akan menjadi indikator penting untuk menilai tekanan harga di ekonomi AS.

Tanda-tanda inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, sehingga melemahkan dolar AS. Dalam kondisi tersebut, harga emas dan komoditas lain yang didenominasikan dalam USD berpotensi mendapatkan dorongan naik.

Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi atau meningkat dapat memperkuat posisi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, yang menjadi sentimen negatif bagi emas.

Kesimpulan: Emas di Persimpangan Sentimen Global

Pergerakan harga emas saat ini berada di persimpangan antara tekanan makroekonomi dan dukungan geopolitik. Di satu sisi, penguatan dolar AS dan meningkatnya selera risiko menekan harga emas dalam jangka pendek. Di sisi lain, ketegangan geopolitik AS–Iran serta potensi pelemahan data ekonomi AS memberikan bantalan bagi harga logam mulia ini.

Dengan banyaknya agenda ekonomi penting dalam beberapa hari ke depan, volatilitas harga emas diperkirakan akan tetap tinggi. Investor dan pedagang disarankan untuk mencermati setiap rilis data dan perkembangan geopolitik, karena keduanya akan memainkan peran krusial dalam menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.

 
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Monday, February 9, 2026

Bestprofit | Emas Melemah Tipis, Sentimen Campuran

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Euforia-Balik-EmasPerak-Pulih-Setelah-Likuidasi-Be-2.jpg

Bestprofit (10/2) – Harga emas kembali melemah setelah mencatat penguatan selama dua hari berturut-turut. Pelemahan ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh para trader, di tengah kondisi pasar global yang masih rapuh pasca kejatuhan tajam pada akhir Januari. Meski sempat mencoba bertahan di level tinggi, tekanan jual kembali mendominasi dan membuat pergerakan emas menjadi lebih volatil.

Pada sesi perdagangan Asia, harga emas sempat turun hingga 1,4% dan kembali bergerak di bawah level psikologis penting $5.000 per ons sebelum akhirnya memangkas sebagian penurunan. Kondisi ini menegaskan bahwa sentimen pasar masih belum sepenuhnya pulih dan investor cenderung bersikap hati-hati.

Tekanan Profit Taking Setelah Reli Singkat

Setelah mengalami penguatan selama dua hari sebelumnya, emas menjadi sasaran aksi ambil untung oleh pelaku pasar jangka pendek. Reli singkat tersebut dinilai sudah cukup untuk mendorong sebagian trader merealisasikan keuntungan, terutama di tengah ketidakpastian arah pasar selanjutnya.

Emas spot tercatat turun 0,8% menjadi $5.015,98 per ons pada pukul 07:31 waktu Singapura. Penurunan ini menunjukkan bahwa meskipun emas masih berada di level tinggi secara historis, tekanan jual tetap muncul ketika pasar kekurangan katalis positif yang kuat untuk melanjutkan kenaikan.

Aksi profit taking ini tergolong wajar, mengingat pergerakan emas dalam beberapa pekan terakhir cenderung ekstrem, dengan lonjakan dan koreksi yang berlangsung cepat. Hal tersebut mencerminkan kondisi pasar yang sangat sensitif terhadap berita dan data ekonomi.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dampak Pelemahan Menjalar ke Logam Mulia Lain

Tidak hanya emas yang tertekan, pelemahan juga menjalar ke pasar logam mulia lainnya. Perak tercatat mengalami penurunan yang lebih dalam, yakni sebesar 2,1% ke level $81,64 per ons. Tekanan pada perak menunjukkan bahwa sentimen risk-off masih cukup kuat, mengingat perak memiliki karakter ganda sebagai aset lindung nilai dan komoditas industri.

Platinum dan paladium pun ikut melemah, seiring berkurangnya minat investor terhadap aset-aset berbasis logam mulia. Penurunan serempak ini mengindikasikan bahwa tekanan bukan hanya bersifat spesifik pada emas, melainkan mencerminkan kehati-hatian pasar secara menyeluruh.

Kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa investor saat ini lebih memilih menunggu kepastian arah kebijakan moneter global, khususnya dari Amerika Serikat, sebelum kembali meningkatkan eksposur pada aset logam mulia.

Pasar Masih Belum Stabil Pasca Kejatuhan Akhir Januari

Volatilitas yang tinggi dalam pergerakan emas tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih setelah kejatuhan tajam pada akhir Januari. Penurunan tajam tersebut meninggalkan trauma pasar, sehingga setiap kenaikan harga cenderung direspons dengan aksi jual cepat.

Ketidakstabilan ini membuat pergerakan emas menjadi mudah berbalik arah. Di satu sisi, emas masih mendapat dukungan dari ketidakpastian global dan potensi pelonggaran kebijakan moneter. Namun di sisi lain, setiap sinyal negatif atau ketidakpastian tambahan langsung memicu koreksi.

Situasi ini menciptakan lingkungan perdagangan yang menantang, di mana strategi jangka pendek lebih dominan dibandingkan posisi jangka panjang.

Fokus Pasar Beralih ke Data Ekonomi Amerika Serikat

Perhatian utama pelaku pasar kini tertuju pada rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Dua data utama yang menjadi sorotan adalah laporan tenaga kerja Januari yang akan dirilis pada Rabu dan data inflasi yang dijadwalkan keluar pada Jumat.

Laporan tenaga kerja akan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar kerja AS, apakah masih cukup kuat atau mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Sementara itu, data inflasi akan menjadi indikator kunci bagi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Kedua data ini memiliki potensi besar untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter, yang pada akhirnya akan berdampak langsung pada pergerakan dolar AS dan harga emas.

Sensitivitas Emas terhadap Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Harga emas dikenal sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Ketika pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga, emas cenderung menguat karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah. Sebaliknya, jika suku bunga diperkirakan tetap tinggi atau bahkan naik, emas biasanya tertekan.

Rilis data tenaga kerja dan inflasi pekan ini berpotensi menggeser ekspektasi tersebut secara signifikan. Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan menekan emas, sementara data yang lebih lemah berpeluang mendorong emas kembali menguat.

Inilah yang membuat pelaku pasar saat ini memilih untuk bersikap wait and see, sehingga pergerakan harga menjadi lebih fluktuatif.

Faktor Politik: Nominasi Kevin Warsh Jadi Sentimen Tambahan

Situasi pasar emas semakin sensitif setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon pemimpin bank sentral AS berikutnya. Langkah ini menambah lapisan ketidakpastian baru, mengingat pandangan dan sikap calon pemimpin The Fed dapat memengaruhi arah kebijakan moneter di masa depan.

Nominasi tersebut membuat pergerakan emas menjadi lebih reaktif terhadap berita politik. Dalam kondisi seperti ini, harga emas bisa naik dengan cepat ketika muncul sentimen positif, namun juga bisa terkoreksi secara mendadak saat sentimen berubah.

Ketidakpastian politik dan moneter ini memperkuat karakter emas sebagai aset yang sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi pasar.

Harga Emas Saat Ini dan Prospek Jangka Pendek

Pada saat analisis ini dibuat, harga emas berada di sekitar $5.020 per ons. Level ini masih mencerminkan posisi yang relatif tinggi, meskipun tekanan koreksi masih membayangi dalam jangka pendek.

Secara teknikal, area di sekitar $5.000 per ons menjadi level psikologis penting yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan masih terbuka. Namun jika ditembus ke bawah, tekanan jual berpotensi semakin besar.

Dari sisi fundamental, arah emas dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada hasil rilis data ekonomi AS dan perkembangan kebijakan moneter ke depan.

Kesimpulan: Volatilitas Masih Jadi Ciri Utama Pasar Emas

Pelemahan harga emas setelah dua hari menguat menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase yang rapuh dan penuh ketidakpastian. Aksi ambil untung, tekanan dari data ekonomi yang dinanti, serta faktor politik global membuat pergerakan emas menjadi sangat fluktuatif.

Bagi pelaku pasar, kondisi ini menuntut kehati-hatian ekstra serta pengelolaan risiko yang disiplin. Emas masih memiliki peran penting sebagai aset lindung nilai, namun dalam jangka pendek, volatilitas tinggi akan tetap menjadi karakter utama pergerakannya.Disclaimer
Artikel ini bersifat analitis dan bukan merupakan referensi definitif. Harap pertimbangkan pengaruh perkembangan fundamental dan teknikal dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi apa pun.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures

Sunday, February 8, 2026

Bestprofit | Pasar Berbalik, Emas Bangkit

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Bangkit-Tembus-5000-Dip-Buyers-Borong-Setelah-1.jpg

Bestprofit (9/2) – Harga emas kembali mencuri perhatian pasar global. Setelah sempat tertekan tajam dalam sepekan terakhir yang penuh gejolak, logam mulia ini bangkit dan kembali menembus level psikologis US$5.000 per ons. Kebangkitan ini terjadi seiring masuknya para dip-buyers—investor yang berburu harga murah—yang memanfaatkan koreksi dalam sebagai peluang akumulasi.

Pada awal perdagangan Asia, spot gold sempat melonjak hingga 1,7% dan bergerak di sekitar US$5.028 per ons. Kenaikan emas juga diikuti oleh logam mulia lain seperti perak, yang ikut menguat di tengah membaiknya sentimen risiko terhadap aset lindung nilai.

Pergerakan ini menandai babak baru setelah pekan sebelumnya emas mengalami volatilitas ekstrem, yang oleh banyak pelaku pasar disebut sebagai salah satu fase paling “liar” dalam beberapa bulan terakhir.

Aksi Dip-Buying Jadi Pemicu Rebound Emas

Kenaikan harga emas kali ini tidak lepas dari masuknya investor yang melihat penurunan harga sebelumnya sebagai peluang. Setelah reli besar di awal tahun yang membawa emas ke rekor tertinggi di akhir Januari, koreksi tajam memicu aksi jual panik dan likuidasi posisi spekulatif.

Namun, bagi investor jangka menengah dan panjang, koreksi tersebut justru membuka ruang masuk yang lebih menarik. Strategi buy on weakness kembali dimainkan, terutama oleh institusi dan investor yang masih percaya pada fundamental jangka panjang emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, pelemahan mata uang, dan ketidakpastian geopolitik.

Masuknya dip-buyers ini menjadi penopang utama rebound, sekaligus menunjukkan bahwa minat terhadap emas belum benar-benar pudar meski volatilitas tinggi masih membayangi pasar.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Sentimen Jepang Ikut Dorong Daya Tarik Emas

Selain faktor teknikal dan aksi beli spekulatif, sentimen makro dari Jepang turut memperkuat kenaikan emas. Kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi memunculkan ekspektasi bahwa arah kebijakan fiskal Jepang ke depan akan lebih longgar dan ekspansif.

Pasar menilai kebijakan fiskal yang longgar, dipadukan dengan kebijakan moneter yang tetap akomodatif, berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar yen. Faktanya, yen masih berada dalam posisi lemah terhadap dolar AS.

Dalam kondisi seperti ini, emas kerap dipandang sebagai “penyimpan nilai” (store of value) yang lebih aman ketika mata uang fiat melemah. Melemahnya yen tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga memperkuat argumen global bahwa ketidakseimbangan mata uang masih menjadi isu utama—sebuah lingkungan yang historisnya kondusif bagi emas.

Dari Euforia ke Koreksi Tajam

Sebelum rebound ini terjadi, emas sempat mengalami kejatuhan tajam dari rekor tertinggi yang dicapai pada 29 Januari. Reli besar sebelumnya dinilai terlalu cepat dan terlalu jauh, sehingga memicu aksi ambil untung besar-besaran.

Per Jumat lalu, harga emas tercatat masih turun sekitar 11% dari puncaknya, meski secara year-to-date (YTD) tetap menguat sekitar 15%. Angka ini mencerminkan betapa ekstremnya fluktuasi yang terjadi dalam waktu singkat.

Sejumlah analis menilai pergerakan harga yang sangat agresif dalam beberapa hari terakhir tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor spekulatif dan positioning pasar yang terlalu padat.

Peran Trader China dalam Volatilitas

Sorotan khusus juga tertuju pada aktivitas trader dari China. Beberapa pelaku pasar menilai bahwa partisipasi agresif investor dan trader China ikut memperbesar amplitudo pergerakan harga emas, baik saat reli maupun saat koreksi.

Lonjakan volume perdagangan dari Asia, terutama melalui produk derivatif dan kontrak berjangka, mempercepat pergerakan harga dan memperbesar volatilitas intraday. Dalam kondisi pasar yang sudah “panas”, tambahan arus spekulatif ini membuat harga emas bergerak lebih liar dari biasanya.

Meski demikian, volatilitas jangka pendek ini tidak serta-merta menghapus narasi bullish jangka panjang yang masih melekat pada emas.

Permintaan Jangka Panjang Tetap Jadi Fondasi

Di balik pergerakan yang masih “choppy”, emas perlahan menunjukkan tanda stabilisasi. Saat ini, harga telah memangkas sekitar setengah dari penurunan pasca-rout, sebuah sinyal bahwa permintaan jangka panjang masih aktif menopang pasar.

Salah satu faktor kunci datang dari sisi permintaan resmi. Bank sentral China tercatat melanjutkan pembelian emas untuk bulan ke-15 berturut-turut, mempertegas bahwa akumulasi cadangan emas masih menjadi strategi jangka panjang otoritas moneter negara tersebut.

Pembelian konsisten oleh bank sentral menjadi bantalan penting bagi harga emas, karena mencerminkan permintaan yang relatif tidak sensitif terhadap fluktuasi harga jangka pendek.

Fokus Pasar Beralih ke Data Ekonomi AS

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat yang krusial. Dalam waktu dekat, pelaku pasar menanti laporan tenaga kerja Januari yang dijadwalkan rilis pada Rabu, disusul data inflasi pada Jumat.

Data-data ini akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Setiap sinyal perlambatan ekonomi atau penurunan tekanan inflasi berpotensi memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga, yang umumnya positif bagi emas.

Sebaliknya, data yang terlalu kuat dapat kembali menekan logam mulia, terutama jika pasar menilai The Fed perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.

Isu Independensi The Fed Jadi Bumbu Tambahan

Selain data ekonomi, pasar juga mencermati isu seputar independensi The Fed. Pernyataan Kevin Warsh, yang kembali menyinggung perlunya kesepakatan baru antara bank sentral AS dan Departemen Keuangan, menambah lapisan ketidakpastian dalam narasi kebijakan moneter.

Wacana ini membuka diskusi tentang sejauh mana kebijakan fiskal dan moneter akan saling beririsan ke depan. Ketika independensi bank sentral dipertanyakan—bahkan hanya sebagai isu wacana—emas biasanya mendapat dorongan tambahan sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan.

Emas Masih Menarik, Tapi Jalan Tetap Berliku

Dengan kombinasi antara aksi dip-buying, sentimen makro global, permintaan bank sentral, dan ketidakpastian kebijakan, emas kembali menunjukkan daya tahannya. Meski volatilitas tinggi belum sepenuhnya mereda, banyak pelaku pasar menilai fase koreksi tajam kemarin lebih menyerupai reset daripada perubahan tren jangka panjang.

Selama ketidakpastian global, pelemahan mata uang, dan risiko kebijakan masih menghantui pasar, emas kemungkinan tetap menjadi aset yang relevan—meski dengan perjalanan harga yang tidak akan mulus.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Thursday, February 5, 2026

Bestprofit | Bitcoin Jatuh, Emas Tertekan

 

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Lanjutkan-Penurunan-Pasca-Reli-Besar-Perak-Ju-2.jpg

Bestprofit (6/2) – Harga emas dibuka melemah pada awal sesi Asia hari Kamis, terseret arus jual global yang bermula dari pasar kripto. Spot gold turun ke kisaran $4.707 per ounce, atau melemah sekitar 1,4%, mencerminkan meluasnya sentimen risk-off lintas aset. Pergerakan ini terjadi bukan karena perubahan besar pada fundamental emas, melainkan sebagai efek rambatan dari tekanan ekstrem di aset berisiko—terutama Bitcoin.

Fenomena ini kembali menegaskan satu pelajaran klasik di pasar keuangan: dalam kondisi panik, korelasi antar aset bisa berubah drastis. Aset yang biasanya dianggap aman pun tidak selalu kebal dari tekanan jual.

Kejatuhan Bitcoin Jadi Pemicu Utama Sentimen Risk-Off

Akar tekanan pagi ini berasal dari pergerakan tajam di pasar kripto. Bitcoin mengalami penurunan signifikan hingga ke area $61.350, atau turun sekitar 15,7% dalam waktu relatif singkat. Volatilitas melonjak tajam setelah pergerakan ekstrem intraday, memicu kekhawatiran lanjutan soal stabilitas pasar kripto secara keseluruhan.

Menurut analis pasar IG, Chris Beauchamp, pelemahan kripto yang sebelumnya terlihat seperti fase bear market biasa dengan cepat berubah menjadi rout—penurunan tajam yang bersifat panik dan menular. Ketika kripto mulai jatuh tanpa banyak penyangga likuiditas, efeknya jarang berhenti di satu kelas aset saja.

Pasar global pun merespons dengan sikap defensif. Investor mulai mengurangi eksposur risiko, menutup posisi spekulatif, dan memindahkan fokus pada pengelolaan likuiditas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dari Kripto ke Komoditas: Efek Domino yang Tak Terhindarkan

Emas, meskipun sering dilabeli sebagai safe-haven, tidak sepenuhnya imun terhadap gelombang jual berbasis likuiditas. Dalam situasi di mana pasar dilanda kepanikan, investor sering kali menjual apa pun yang masih bisa dijual dengan cepat dan efisien—termasuk emas.

Banyak pelaku pasar saat ini berada dalam mode “lock positions”, yakni menutup posisi untuk mengamankan margin dan mengurangi risiko lanjutan. Tekanan seperti margin call, stop-loss, dan deleveraging terjadi hampir bersamaan, menciptakan arus keluar dana yang serentak di berbagai aset.

Dalam konteks ini, pelemahan emas lebih mencerminkan kebutuhan pasar akan cash cepat, bukan sinyal bahwa daya tarik emas sebagai lindung nilai telah memudar secara struktural.

Likuiditas Lebih Penting dari Narasi Safe-Haven

Dalam fase panic selling, logika pasar sering kali berbalik. Narasi fundamental dan jangka panjang sementara dikesampingkan, digantikan oleh satu prioritas utama: likuiditas. Aset dengan pasar dalam dan mudah diperjualbelikan—seperti emas—justru menjadi sumber dana yang “paling mudah” dicairkan.

Hal ini menjelaskan mengapa emas bisa ikut tertekan meskipun secara teori seharusnya diuntungkan oleh ketidakpastian global. Ini bukan pertama kalinya pola tersebut terjadi. Dalam banyak krisis sebelumnya, emas kerap mengalami penurunan awal sebelum akhirnya kembali menguat setelah tekanan likuiditas mereda.

Dengan kata lain, penurunan emas saat ini lebih bersifat taktis ketimbang fundamental.

Peran Dolar AS dan Yield dalam Memperkuat Tekanan

Tekanan pada emas juga diperparah oleh dinamika makro yang tidak bersahabat. Dalam lingkungan risk-off, dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah (yield) sering kali menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap paling aman dan likuid.

Penguatan dolar membuat harga emas—yang dihargakan dalam USD—menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli non-dolar. Sementara itu, kenaikan yield meningkatkan biaya peluang memegang emas, karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.

Kombinasi dolar yang lebih kuat dan yield yang naik menciptakan tekanan ganda bagi emas, terutama dalam jangka pendek, meskipun narasi jangka panjangnya masih tetap solid.

Sensitivitas Pasar Emas dalam Jangka Pendek

Untuk jangka pendek, pergerakan emas sangat sensitif terhadap dua faktor utama. Pertama, kelanjutan tekanan di pasar kripto. Jika Bitcoin dan aset digital lain masih melanjutkan penurunan tajam, efek domino ke pasar lain—termasuk emas—berpotensi berlanjut.

Kedua, arah pergerakan dolar AS dan yield obligasi. Jika keduanya terus menguat, ruang bagi emas untuk rebound akan semakin terbatas. Namun, jika tekanan mulai mereda dan volatilitas turun, emas berpeluang mengalami rebound cepat, mengingat posisinya yang sudah tertekan dalam waktu singkat.

Pasar saat ini bergerak sangat reaktif terhadap headline dan perubahan sentimen, membuat volatilitas tetap tinggi di hampir semua kelas aset.

Antara Tekanan Jangka Pendek dan Cerita Jangka Panjang

Penting untuk membedakan antara tekanan jangka pendek akibat sentimen dan cerita jangka panjang emas. Secara fundamental, emas masih didukung oleh berbagai faktor struktural, seperti ketidakpastian geopolitik, fragmentasi ekonomi global, dan kebijakan moneter yang tetap ketat namun penuh risiko.

Namun, dalam fase awal sesi Asia hari ini, faktor-faktor tersebut sementara kalah oleh dinamika likuiditas dan risk management. Pasar belum sepenuhnya kembali ke mode “mencari perlindungan”, melainkan masih berada di fase “menghindari risiko”.

Kesimpulan: Spillover Risk-Off, Bukan Perubahan Fundamental

Pelemahan emas di awal sesi Asia hari ini lebih tepat dipandang sebagai spillover risk-off dari gejolak kripto dan sentimen global yang sedang rapuh. Tekanan tersebut dipicu oleh kebutuhan likuiditas dan penyesuaian risiko, bukan oleh perubahan besar pada fundamental emas itu sendiri.

Selama volatilitas kripto dan ketegangan pasar masih tinggi, emas berpotensi tetap berfluktuasi. Namun, begitu tekanan mereda dan pasar kembali rasional, emas memiliki ruang untuk memulihkan diri dengan cepat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures