
Bestprofit (17/9) – Harga emas masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (17/9), setelah Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat sebesar 25 basis poin. Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS dalam tiga tahun dan diikuti sinyal bahwa ruang untuk pengetatan kebijakan lebih lanjut masih terbuka.
The Fed melalui Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Keputusan itu disetujui secara bulat. Bank sentral AS menyebut inflasi masih berada pada level tinggi dan kebijakan terbaru diharapkan membantu membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Langkah tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar emas karena kenaikan suku bunga biasanya meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan instrumen berpendapatan tetap. Sebaliknya, emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga sehingga daya tariknya dapat berkurang ketika tingkat suku bunga meningkat.
Harga Emas Berada di Sekitar US$4.270 per Troy Ounce
Di pasar spot, harga emas bergerak di sekitar US$4.270 per troy ounce pada Kamis pagi. Emas sebelumnya telah mengalami tekanan dan turun sekitar 2% dalam tiga sesi perdagangan.
Pada perdagangan sebelumnya, harga emas spot sempat melemah setelah keputusan The Fed. Penurunan tersebut terjadi setelah harga emas mencatat level yang lebih tinggi pada sesi sebelumnya.
Pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana pasar merespons perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS. Sebelum keputusan diumumkan, investor telah memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun, perhatian kemudian beralih kepada pesan The Fed mengenai arah kebijakan setelah kenaikan tersebut.
Dengan demikian, tekanan terhadap emas bukan semata-mata berasal dari kenaikan suku bunga yang sudah diputuskan, tetapi juga dari kemungkinan bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Proyeksi Suku Bunga The Fed Naik
Salah satu perubahan penting dalam pertemuan September adalah proyeksi suku bunga The Fed. Median proyeksi suku bunga pada akhir 2026 dinaikkan menjadi 4,1% dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,8%.
Perubahan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa para pejabat The Fed masih melihat perlunya mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat dalam periode mendatang.
Proyeksi tersebut bukan berarti kenaikan suku bunga berikutnya sudah dipastikan. The Fed tetap akan melihat perkembangan ekonomi dan inflasi sebelum menentukan kebijakan berikutnya.
Meski demikian, perubahan proyeksi menjadi perhatian pasar karena menunjukkan adanya dukungan terhadap tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS belum akan segera beralih ke arah yang lebih longgar.
Inflasi Masih Menjadi Perhatian Utama
Salah satu alasan utama di balik kebijakan The Fed adalah inflasi yang masih berada di atas target bank sentral.
Inflasi menjadi tantangan karena kenaikan harga yang bertahan terlalu lama dapat mengurangi daya beli masyarakat dan memengaruhi keputusan bisnis. Karena itu, The Fed berupaya menjaga tekanan inflasi tetap terkendali melalui kebijakan suku bunga.
Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan bahwa inflasi masih menjadi ancaman bagi perekonomian AS. Ia menyoroti masih banyak kelompok barang dan jasa yang mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3%.
Data terbaru juga menunjukkan inflasi inti AS pada Agustus meningkat lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat masih terbuka.
Bagi pasar keuangan, perkembangan inflasi menjadi indikator penting. Jika tekanan harga tetap tinggi, investor dapat memperkirakan suku bunga bertahan pada level tinggi lebih lama. Sebaliknya, penurunan inflasi yang konsisten dapat membuka ruang bagi perubahan arah kebijakan moneter.
Dolar AS Menguat dan Menambah Tekanan pada Emas
Respons pasar valuta asing turut menjadi faktor penting bagi pergerakan emas. Setelah keputusan The Fed, dolar AS menguat karena investor menilai bank sentral masih memiliki kecenderungan mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.
Penguatan dolar cenderung memberikan tekanan terhadap harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS. Ketika dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga dapat memengaruhi permintaan.
Indeks dolar Bloomberg tercatat cenderung stabil setelah menguat sekitar 0,5% pada sesi sebelumnya. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih menyesuaikan posisi setelah pengumuman kebijakan The Fed.
Selain dolar, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi perhatian. Tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset yang memberikan pendapatan bunga dibandingkan emas.
Perak dan Logam Mulia Lain Ikut Bergerak
Pergerakan logam mulia lainnya juga menjadi perhatian setelah keputusan The Fed. Pada perdagangan Kamis pagi, perak tercatat menguat sekitar 0,5% menjadi US$63,28 per troy ounce.
Sementara itu, platinum dan paladium bergerak sedikit lebih tinggi. Pergerakan masing-masing logam tetap dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk permintaan industri, kondisi ekonomi global, pasokan, serta perkembangan pasar komoditas.
Perak memiliki karakteristik yang berbeda dengan emas karena selain berfungsi sebagai aset investasi, permintaannya juga banyak berasal dari sektor industri. Oleh sebab itu, pergerakan harga perak tidak selalu mengikuti emas secara persis.
Pasar Menanti Kebijakan The Fed Berikutnya
Setelah kenaikan suku bunga September, perhatian investor kini beralih kepada data ekonomi AS berikutnya. Inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta perkembangan harga energi menjadi sejumlah indikator yang dapat memengaruhi keputusan The Fed selanjutnya.
Pasar juga akan mencermati pernyataan para pejabat bank sentral untuk melihat apakah kecenderungan kebijakan moneter akan tetap ketat atau mulai memberikan ruang bagi pelonggaran.
Bagi pasar emas, perkembangan tersebut penting karena perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi dolar AS dan imbal hasil obligasi secara bersamaan.
Jika pasar kembali memperkirakan suku bunga AS berada pada level tinggi dalam waktu lebih lama, emas dapat menghadapi tekanan dari sisi biaya peluang. Sebaliknya, perubahan ekspektasi menuju kebijakan moneter yang lebih longgar dapat mengubah kondisi pasar dan meningkatkan kembali minat terhadap logam mulia.
Untuk saat ini, emas menghadapi kombinasi tekanan dari kenaikan suku bunga, penguatan dolar AS, serta ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS masih akan ketat. Dengan harga yang berada di sekitar US$4.270 per troy ounce, pelaku pasar akan mencermati apakah emas mampu menemukan dukungan setelah mengalami koreksi dalam beberapa sesi terakhir.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures





